Pages

Friday, May 26, 2017

Mush'ab bin Umair (Duta Islam yang pertama). (Bagian 2)



- Suatu hari Mush'ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting. Ia menjadi utusan Rasulullah ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Islam kepada orang Anshar yang sudah masuk Islam dan telah berbaiat pada Rasulullah SAW. Selain itu untuk mengajak penduduk Madinah lainnya menganut agama Allah dan mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut HIJRATUL RASUL sebagai peristiwa besar.

- Sebenarnya di kalangan shahabat banyak yang lebih tua dari Mush'ab, namun Rasulullah menjatuhkan pilihannya pada Mush'ab. Dia pun menyadari bahkan tugas yang amat berat dipikulkan kepadanya. Menyangkut nasib agama Islam di kota Madinah, suatu kota yang tak lama kemudian menjadi kota pusat para da'i dan dakwah.

- Mush'ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah SWT kepadanya, berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifah zuhud, kejujuran, kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam.

- Sesampainya di Madinah, didapatinya kaum Muslimin di sana tidak lebih dari dua belas orang namun beberapa bulan kemudian meningkatlah orang yang memenuhi panggilan Allah dan RasulNya.

- Dengan tindakan yang tepat dan bijaksana, Mush'ab bin Umair telah membuktikan bahwa pilihan Rasulullah SAw atas dirinya itu tepat. Ia memamahami tugasnya hingga tak terlanjur melampaui batas yang telah ditetapkan. Ia sadar bahwa tugasnya ialah menyeru kepada Allah SWT, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah SWT, membimbing mereka ke jalan yang lurus. Akhlaqnya mengikuti pola hidup Rasulullah yang diimaninya, yang mengemban kewajiban hanya menyampaikan belaka.....

- Di Madinah  Mush'ab tinggal sebagai tamu di rumah As'ad bin Zararah. Dengan ditemani As'ad ia pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah, dan tempat-tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat Kitab Suci dari Allah, menyampaikan kalimatullah "bahwa Allah Tuhan Yang Maha Esa" secara hati-hati.

- Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta shahabatnya, yang nyaris celaka kalau tidak karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya. Saat itu dia sedang memberi petuah kepada orang-orang tiba-tiba disergap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush'ab  dengan menodongkan lembingnya. Bukan main murka dan marah Usaid, menyaksikan Mush'ab dianggap mengacau dan mempengaruhi anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan bahwa Allah Tuhan Yang Maha Esa yang selama ini belum pernah mereka dengar.

- Demi mendengar kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk bersama Mush'ab. Membuat kecut yang hadir. Dengan tatapan dan pembawaan yang tenang dan ketulusan hati, Mush'ab berkata pada Usaid,"Kenapa anda tidak duduk dulu, dan mendengarkan. Seandainya anda menyukainya, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu."

- Karena Usaid orang yang pandai, berakal, dan berfikiran sehat, dan saat ini hanya diminta Mush'ab mendengarkan saja dan bukan lainnya. Jika ia setuju ia akan membiarkan Mush'ab namun jika tidak maka Mush'ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyarakat mereka untuk mencari tempat yang lain, dengan tidak merugikan atau dirugikan orang lain.

- Setelah mendengarkan pembicaraan Mush'ab, Usaid pun tersadarkan. "Sekarang saya insyaf", seraya menjatuhkan lembing.

-Usaid bisa menerima Islam dan masuklah ia ke dalam Islam. Usaid pun membersihkan diri dengan air sesuai yang disarankan, lalu membuat pengakuan bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah SWT dan bahwa Muhammad itu utusan Allah.

- Berita masuknya Usaid ke dalam Islam menjadi ramai perbincangan, lalu disusul oleh Sa'ad bin 'Ubadah. Warga kota Madinah saling berdatangan dan berkomentar, " Kalau Usaid bin Hudlair, Sa'ad bin 'Ubadah, dan Sa'ad bin Muadz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu.....Ayolah pergi ke Mush'ab dan beriman bersamanya!" demikian kata orang-orang penduduk Madinah. 

-Permasalahan berbagai suku di Madinah menjelang hijrah Rasulullah telah teratasi.

(Bersambung)