Friday, March 10, 2017

Program Prioritas Dari USAID


Satu lagi program USAID Prioritas yang sangat strategis dan bermanfaat bagi calon guru dan guru-guru kita. Supply dan Demand Driven menjadi pertimbangan utama pelaksanaan program di bawah ini, disertai harapan semoga LPTK di Papua terinspirasi mengembangkan program yang sama .....,,,, USAID Bekali Buku Praktik Calon Guru
by Acdp Indonesia
Republika, halaman 5
USAID Prioritas menerbitkan buku panduan praktik bagi mahasiswa juruan ilmu pendidikan. USAID Prioritas menilai harus ada kerja sama yang baik antara Lembaga Pendidikan Tenaga Pendidikan (LPTK) dengan sekolah dalam mengahasilkan calon guru.
Direktur Program USAID Prioritas, Stuart Weston, Rabu (8/3), mengatakan, sebagai produsen calon guru, LPTK harus memahami kebutuhan penggunanya yaitu sekolah. Sebaliknya, sekolah sebagai pengguna juga harus aktif memberikan masukan apa yang dibutuhkan pada produsen.
Stuart mengatakan, dosen LPTK tentu kaya teori, tetapi biasanya kurang punya pengalaman praktik. Sebaliknya, guru pasti kaya dengan pengalaman praktik tetapi biasanya kurang dalam teori. Melalui interaksi tersebut, kedua pihak dapat bekerja sama yang saling menguntungkan dan bersinergi.
Ia menjelaskan, melalui program Prioritizing Reform, Innovation, and Opportunities for Reaching Indonesia’s Teachers, Administrators, and Students (PRIORITAS), pihaknya baru saja menerbitkan buku praktik dalam perkuliahan dan integrasi LPTK dan sekolah. Buku itu berisi pengalaman para dosen dan guru sekolah mitra LPTK dalam meningkatkan kualitas guru dan calon guru hasil kerja sama dengan program USAID Prioritas.
===========
Semoga menginspirasi kita semua, khususnya pemerhati pendidikan tinggi di Tanah Papua ....... Dorong Sinergi Kampus-Industri, 
by Acdp Indonesia, Kompas, halaman 11


Perguruan tinggi negeri berbadan hukum di Indonesia didorong terus meningkatkan kerja sama dengan industri. Hal itu dimaksudkan agar perguruan tinggi negeri berbadan hukum bisa bersaing masuk menjadi universitas 500 besar dunia. Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Ainun Naim menuturkan, kerja sama dengan industri memungkinkan para mahasiswa dan dosen terekspos langsung dengan perubahan-perubahan yang terjadi di sektor itu sehingga mereka bisa beradaptasi dan menambah wawasan. Hal itu menjadi salah satu upaya meningkatkan mutu tenaga pengajar dan lulusan PTN-BH.

Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) Joni Hermana mengatakan, pihaknya berkomitmen meningkatkan kerja sama dengan industri, terutama di bidang maritim dan kelautan, energi, permukiman dan lingkungan, nanoteknologi, serta teknologi informasi dan komunikasi. Kerja sama dengan berbagai industri diharapkan membuka sumber alternatif pendapatan bagi PTN-BH. Ia mengatakan, tahun lalu, pihaknya bekerja sama dengan berbagai industri senilai Rp 160 miliar.

Sementara itu, dalam acara Kongkow Pendidikan: Diksusi Ahli dan Tukar Pendapat yag digelar Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) Indonesia, juga mengemuka wacana pentingnya jejaring perguruan tinggi dengan industri untuk menjamin relevansi program studi dan kualitas lulusan perguruan tinggi. Koordinator Pengembangan Keterampilan, Pendidikan, dan Tata Kelola Pendidikan ACDP Abdul Malik mengatakan, ketidaksesuaian bisa terjadi karena keterhubungan perguruan tinggi dan industri belum optimal, seperti dalam penyusunan kurikulum dan pelatihan bagi mahasiswa hingga magang/praktik.

Dari survei yang dilakukan ACDP pada 489 perusahaan, baru 7 persen perusahaan yang berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum dan 7 persen terlibat dalam proyek penelitian. Lebih dari 60 persen perusahaan tidak menyediakan program magang untuk lulusan perguruan tinggi. Menurut Malik, Indonesia harus mulai menyiapkan sistem informasi tenaga kerja. Dari pengalaman negara maju, sistem itu efektif untuk mengembangkan relevansi perguruan tinggi dengan dunia kerja.

Direktur Pendidikan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Amich Alhumami mengatakan, kualitas perguruan tinggi masih menjadi tantangan. Perkuliahan sarat teori banyak terjadi di perguruan tinggi karena minimnya infrastruktur, termasuk laboratorium.

Sumber :