Friday, September 9, 2016

Gara-gara E-money, Ibu Ini Tenang

Suatu kali seorang teman penulis di sosial media, sebut saja Rita,  sedang mengeluhkan kasus dua putra kembarnya yang sedang di bangku sekolah dasar karena nafsu jajan mereka yang tinggi. Setiap hari paling sedikit dia memberi mereka uang 25.000 rupiah dan selalu habis. Yang mengkhawatirkan ialah dia tidak bisa mengetahui apa yang mereka beli setiap harinya.


Dia membaca tulisan penulis tentang e-money dan mengirim pesan inbox. Dia bertanya tentang e-money dan kegunaannya lebih jauh. Penulis pun menjelaskan kegunaan dan cara mendapatkannya. Tentu saja sesuai apa yang pernah saya alami selama menggunakan e-money ini.


Beberapa hari kemudian Rita kembali menghubungi penulis dan menceritakan apa yang terjadi dengan kedua anak kembarnya setelah menggunakan e-money.


Dia menceritakan bahwa setelah membeli dua kartu e-money dia mengajak kedua anaknya ke Indomaret untuk melakukan top-up. Dia memberi masing-masing anak 300.000 rupiah. Anak-anaknya menyerahkan kartu e-money dan uangnya kepada kasir. Kasir pun memprosesnya. Setelah itu masing-masing anak menerima kembali kartu e-moneynya.


Rita menjelaskan pada anaknya bahwa dia hanya akan melakukan top-up seminggu sekali. Mereka pun hanya bisa membeli jajanan hanya yang ada di mini market. Kalau mereka jajan terlalu banyak dan tidak memperhitungkan sisanya maka mereka tidak akan bisa mendapat uang tambahan lagi. Kalau mereka berhemat, maka di akhir pekan mereka bisa jajan ekstra karena masih ada sisa uang di kartu e-money.


Rita pun menjadi tenang karena anaknya tidak akan jajan sembarangan di pinggir jalan lagi yang higienitasnya tidak bisa dijamin. Selain itu dia telah mengajarkan kepada anak-anaknya cara mengatur uang. Dengan berterima kasih atas ide yang saya tulis di blog dia menutup pembicaraan.


Senangnya menulis bila yang ditulis bermanfaat untuk orang lain.


Solo, 9 September 2016 / 8 Juni 2016
Fadjar Setyanto

--------------
TOEFL / IELTS preparation course
@Solo, call 085288880806