Thursday, September 8, 2016

Akomodirlah Pemikiran Gila Sebelum Muncul Masalah

Sebuah group kecil yang berisi orang-orang yang penuh pemikiran "gila" dan berani, bisa mengubah dunia.

Percaya atau tidak percaya kalimat di atas memang buktinya sudah banyak.

Galileo Galilei yang berfikiran gila mengatakan bahwa bumi bulat, telah melawan pemikiran saat itu. Keduanya tetap teguh pada pemikirannya meskipun nyawa taruhannya. Ternyata pemikirannya terbukti dan sekarang dunia mengakuinya.

Wyatt bersaudara yang menjadi tertawaan pada masa itu karena ingin membuktikan bahwa manusia bisa terbang ternyata menjadikan adanya pesawat hingga saat ini.

Kemerdekaan Indonesia sendiri dipelopori oleh segelintir orang yang tahu bahwa negara ini sedang dijajah dan harus merdeka agar bisa mengatur diri sendiri dan kekayaan negara ini tidak dicuri negara lain. Dikarenakan pemikiran semacam itu muncullah nama-nama hebat seperti Ir Soekarno, Mohammad Hatta, Syahrir dan banyak lagi. Mereka setia pada pemikirannya. Jadilah akhirnya Indonesia merdeka.

Masih banyak kasus-kasus besar di negara ini diawali oleh segelintir orang yang penuh pemikiran dan berani.

Dalam dunia organisasi kejadian seperti ini bisa saja terjadi. Oleh sebab itu tidak heran dalam partai politik dikenal istilah Munaslub atau Pertemuan Nasional Luar Biasa. Kata Luar Biasa sendiri bermakna sebagai peristiwa yang terjadi di luar kebiasaan dikarenakan ada kejadian tertentu yang menghendaki perubahan.

Khusus dunia organisasi, memang selama jalannya organisasi masih bagus dan sesuai tidak perlu khawatir dengan kondisi-kondisi semacam itu. Apapun kondisi organisasi pemikiran berlawanan dengan pemikiran para pengurus akan selalu ada namun untuk lancarnya organisasi ada baiknya pihak pengurus mengakomodir pemikiran-pemikiran yang mungkin terasa ekstrim. Namun bila para pengurus organisasi berfikiran terbuka dan yakin pemikiran ini untuk kemajuan organisasi maka ada baiknya pemikiran yang berlawanan diakomodir sehingga tidak terjadi gejolak di dalam organisasi. (44)

Bagaimana menurut anda?


Solo, 9 September 2016 / 8 Juni 2016

Fadjar Setyanto