Saturday, August 20, 2016

Mau Bantu Negara? Pakai Uang Plastik





Suatu hari saya melihat pengumuman besar di sebuah pintu tol di Jakarta. Diinformasikan kepada publik bahwa pintu tol tersebut dalam jangka waktu dekat hanya akan menerima transaksi non tunai alias menggunakan e-money.Daerah tersebut memang daerah padat dan macet. Antrian yang terjadi untuk membayar tol bisa sangat   panjang dan dampaknya juga melibatkan kendaraaan lain yang jauh berada di belakangnya. Kebijakan menerapkan penggunaan uang plastik yang bernama e-money sangat tepat untuk mengurangi antrian.


Penulis pernah menghitung perbedaan waktu yang diperlukan untuk membayar tol. Bila menggunakan tunai maka diperlukan sekitar 4-5 detik tetapi dengan menggunakan uang plastik e-money hanya diperlukan 2 detik saja. Ditambah waktu antrian yang bisa mencapai 5 sampai 6 mobil bila menggunakan tunai dibandingkan dengan dengan loket non tunai yang biasanya cuma 1 atau 2 mobil saja.


Pengalaman penulis juga menunjukkan bahwa dengan menggunakan e-money juga mengurangi uang receh. Uang receh seribu rupiah nominalnya memang kecil, tapi pernahkah kita membayangkan ongkos untuk membuat uang koin tersebut? Membuat uang koin bisa lebih mahal daripada membuat uang kertas. Biaya membuat uang kertas di Indonesia rata-rata mencapai Rp. 500,00 per lembar. BI sendiri perlu dana kurang lebih 2 trilyun rupiah untuk mencetak uang pengganti uang yang lusuh dan rusak.


Dengan menggunakan uang plastik seperti e-money kita sudah membantu mengurangi kerusakan uang, menghemat waktu di gerbang tol, dan tentu saja tidak membuat banyak uang koin receh tercecer. Secara tidak langsung kita juga membantu negara menghemat biaya cetak uang pengganti.


Jakarta, 20 Agustus 2016 / 8 Juni 2016
Fadjar Setyanto