Friday, July 15, 2016

Topeng Terhebat

"Merasa paling"............ dua kata yang bisa mengakibatkan orang jatuh. Mengapa? Dengan dua kata tersebut ada kecenderungan menganggap remeh orang lain bila orang lain melakukan sesuatu tidak sesuai dengan apa yang biasa dilakukanya.


Apakah di dunia ini ada kata yang mengijinkan kita menggunakan kata "paling"? Mari kita lihat.


Intelegensia manusia itu memiliki banyak hal yang berbeda. Ada istilah "multiple intelegensia". Apa artinya itu? Artinya manusia itu memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Cerdas di bidang A belum tentu cerdas di bidang B belum tentu juga cerdas di bidang C.
Seseorang yang jago menyanyi belum tentu jago main musik (meskipun kaitan musik dan alat musik sangat dekat). Jago main gitar, belum tentu jago main harpa. Itu salah satu contohnya.


Contoh lain lagi. Sama-sama perempuan (maaf saya menggunakan kata perempuan bukan wanita, karena kata perempuan memiliki makna lebih tinggi daripada wanita). Ada perempuan yang jago menulis tapi tidak bisa memasak, sebaliknya ada yang jago masak tapi tidak bisa menulis. Ada yang jago mengatur dengan riasan tapi tidak jago dalam hal mengemudi. Sebaliknya ada yang jago mengemudi tapi tidak bisa merias. Ada yang jago merias tapi tidak jago dengan menggambar atau bahasa asing dan seterusnya.


Pada dunia laki-laki. Ada kecerdasan menerima kekurangan istri terhadap masakan, ada yang tidak. Ada yang ngamuk pada saat masakan istrinya tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki tapi ada yang bisa bisa menerima. Ada yang pandai pura-pura ada yang tidak. Ada yang egois mengharuskan istrinya memasak ini itu sesuai kehendaknya, ada yang toleran terserah pada sang istri. Semuanya itu tergantung kecerdasan. 


Secara sedikit khusus kita lihat kecerdasan kelakuan laki-laki terhadap masakan istri. 


Ada yang berkata,"Gue sih paling seneng, masakan istri gue". 
Pertanyaannya? 
1. Kalau saat istri memasak tidak sesuai dengan selera sang suami gimana? Akan terus banyak makan seperti saat istri memasak sesuai seleranya? Atau malah mengkritiknya? Atau lebih parah memarahinya?

2. Apakah si suami membawa ransom makanan dari rumah untuk makan siangnya? Atau makan di luar kantor yang bisa melihat dan melakukan  berbagai hal pada saat makan siang tersebut, entah itu bersama kolega laki-laki atau perempuan? Ada istilah terkenal di tahun 98an yaitu SAL (Sex After Lunch). SAL inilah yang besar kemungkinan jadi hiburan terbaik bagi yang suka makan siang bersama koleganya (meskipun tidak semua dan tidak bisa digeneralisir, tapi perilaku semacam ini ada). Maaf saya belum ketemu istilah SAD (Sex After Dinner dengan kolega kantor) entah kenapa. Kemungkinan ialah karena saat dinner itu biasanya ada kalau tidak semua, sang suami harus memakai "topeng" sebagai suami yang menghargai masakan istri, seneng masakan rumah, dan sebagainya demi menutupi aksi SAL-nya di saat lunch. Wallahu a'lam.


Kasus laki-laki ini sangat menarik. Pernah suatu saat penulis diajak pergi ke beberapa negara eropa oleh sang bos. Bos ini termasuk memiliki istri yang jago memasak, cantik (khas ala India), juga hebat dalam marketing. Si bos ini selalu membawa ransom dari rumah, tidak pernah melakukan lunch atau dinner  bersama kolega bersama di luar kantor. Tetapi, pada saat ke luar negeri, kelakuan sang bos berubah 180 derajat. Menonton tarian telanjang adalah menunya tiap malam. Tidak pernah pulang ke hotel sebelum pagi itu yang dilakukan selama trip.  Saya sebagai staffnya, harus jaga hotel tiap malam dan membangunkannya dan menyiapkan agenda tiap hari karena jadwal meeting dengan partner bisnis. "Topeng" yang luar biasa, bukan?



Inilah multiple intelegen. Manusia memiliki kecerdasan intelegensia yang berbeda-beda. Tidak ada manusia yang cerdas di semua lini. Selalu ada saja kekurangan dan kelebihan pada area lini tertentu. Hanya kemampuan saling menerima kekurangan itulah yang membuat hidup suami istri tidak saling mendominasi satu sama lain.



Jakarta 35 hari lepas dari 8 Juni 2016
Fadjar Setyanto