Wednesday, July 6, 2016

I Want To Be A Stewardess (3)

Selepas Isya, datang seorang tamu ke rumah. Ternyata itu adalah Sen.

“Apa kabar?”, tanya saya.

“Baik, Sir”, jawabnya.

Setelah basa-basi sebentar serta silaturahim lebaran, saya mulai bertanya-tanya tentang pengalamannya ikut test menjadi pramugari yang sudah mencapai tahap ke 6 dan akan ke 7.

Dia menjelaskan bahwa sejak mendapat pertanyaan dari saya tentang “ingin menjadi apa”, dia menjadi ingat cita-citanya sejak kecil yaitu menjadi pramugari. Saya kembali memberi semangat pada Sen, bahwa modal dasar fisik dia sudah punya. "Tinggi kamu cukup dan ideal, maaf secara wajah saya katakan kamu relatif cantik, tinggal soft skill yang perlu dilatih dan dikembangkan".

Sen melanjutkan ceritanya bahwa sejak saat itu dia rajin kumpulkan data-data perusahaan penerbangan dan alamatnya. Dia juga menunjukkan kepada saya data dan profil beberapa maskapai penerbangan dalam dan luar negeri yang dia kumpulkan di handphone-nya. Beberapa artikel tentang tanggung jawab pramugari dan tugas-tugasnya juga dia kumpulkan. Ibarat kata, dia sudah menggali informasi yang cukup banyak tentang maskapai penerbangan dan dunia pramugari.

Saya memuji apa yang dia kerjakan, sambil saya persilakan kalau mau komunikasi bahasa Inggris dengan saya, juga bisa, baik melalui whatsapp atau telpon atau kalau butuh bacaan umum dalam bahasa Inggris. Saya juga menyarankan dia berlatih wawancara di depan cermin.

Saya ceritakan padanya tentang seseorang selevel atase Pendidikan Amerika yang bertugas di Indonesia. Orang ini, meskipun punya posisi tinggi, tetapi dia setiap malam selalu menyempatkan berlatih berbicara di depan cermin. Saya ajak dia membayangkan, seseorang dengan posisi tinggi dan penting, ternyata masih berlatih berbicara di depan cermin, setiap hari!

“Coba kalau belum punya jabatan atau pekerjaan tapi berlatih saja tidak mau, kira-kira kamu sebut apa orang ini?”, tanya saya padanya.

“Malas , Sir”, jawabnya.

“Nah tuh kamu bisa membuat kesimpulan sendiri kan?”, jawab Saya.

Sen manggut-manggut mendengarkan penjelasan saya.


Kurang dari satu jam Sen berkunjung akhirnya dia pamit. Saya pertegas lagi komitmennya untuk berlatih, dan dia mengangguk setuju sambil berkata ,”Mohon doanya ya Sir agar saya bisa lancar dan bisa jadi pramugari”.



Jakarta 28 hari lepas dari 8 Juni 2016