Monday, July 4, 2016

Cerita Tentang Ayah

Saat saya sedang “acting” sebagai penyiar lagu di group Whatsapp Alumni SMP 119 angkatan 87, beberapa rekan minta lagu tentang Ayah. Ada yang dinyanyikan oleh Ebiet G. Ade ataupun oleh Ada Band. Ebiet G Ade, dimintakan oleh teman dengan kode udara “Dedi” sedangkan dari Ada Band Dimintakan oleh teman dengan kode udara”Wennie”.


Kedua lagu berkisah tentang pengorbanan ayah. Pengorbanan  sewaktu kita kecil hingga mereka, “sang ayah” mulai menampakan garis-garis ketuaan namun penuh dengan jejak-jejak perjuangan di masa mudanya demi keluarga.
Berbicara tentang Ayah mengingatkan saya tentang bagaimana Ayah saya harus keluar masuk rumah sakit dua atau tiga tahun sebelum beliau berpulang ke rahmatullah. Berkali-kali masuk Rumah Sakit Jantung Harapan Kita dalam setahun adalah hal biasa. Hingga akhirnya beliau masuk RS Husada di tanggal 1 Maret 2013 dan sejak itu tidak pernah kembali lagi ke rumah karena tanggal 1 April 2013 beliau dipanggil menghadapNya.


Mengingat apa yang dilakukan Ayah terhadap perkembangan saya di masa kecil, saya sangat berterima kasih karena beliau melakukan itu demi saya. Beberapa hal yang saya ingat :


1. Mengantarkan saya di hari-hari awal masuk madrasah Nurani, di Utan Panjang, Jakarta Pusat.


2. Selalu menyempatkan pulang pada saat waktu sholat Jumat untuk selanjutnya mengajak saya ke masjid bersama. Itu beliau lakukan sejak saya di SD kelas 1 hingga saya di SMP. Hingga saya memiliki kebiasaan tidak meninggalkan sholat Jumat. Saya sendiri sempat iri pada teman-teman tetangga, yang bisa tidak sholat Jumat, pada waktu itu. Sekarang saya menyadari bahwa apa yang dilakukan ayah saya adalah membentuk karakter agar tidak terbiasa meningglkan sholat Jumat.


3. Ayah saya mengajarkan pada saya tentang berhenti merokok. Sebelumnya saya biasa membelikan rokok untuk saya pada waktu itu. Namun pada suatu waktu, beliau bisa menunjukkan kemampuan berhenti merokok secara total, sehingga saya sendiri hingga saat ini tidak pernah tertarik dengan rokok.


Itulah beberapa hal yang ternyata telah membentuk karakter saya. Ayah saya banyak berpengaruh terhadap pembentukan karakter saya.


Cerita mengenai masa-masa lucu bersama Ayah saya tentu saja banyak, bermain sepatu roda bersama di monas ataupun di Podomoro saat daerah itu masih alang-alang, bersepeda keliling Jakarta berdua, saat saya diajari naik sepeda motor dan menggunakan motor Vespa tahun 1966 biru dengan nomor B 6997 S. Pada saat saya SMA pun beliau menemani saya mendapatkan SIM C dan SIM A. Itulah kepingan kecil suka dan duka dari rentetan kehidupan saya dengan Ayah saya.


Cerita mengenai kepingan kecil cerita bersama ayah, juga saya dengar dari seorang teman yang biasa saya panggil Fira. Dia mengisahkan suatu hari pergi bersama ayahnya ke daerah perbelanjaan top bagi warga Kemayoran pada masa itu. Fira dan ayahnya pergi ke Ji Ung. Fira meminta sesuatu pada ayahnya, namun ayahnya tidak mengabulkan apa yang diminta. Dia tetap “keukeuh” minta dibelikan, tetapi sang ayah juga tetap tidak mengabulkan. Fira menangis dan ngambek, lalu istilah bahasa jawanya “ndhodhok ndeprok” atau duduk di jalan, tidak bergeming.


Sang ayah membiarkan dia. Sang anak pun tetap ngotot. Orang-orang yang lewat dan para pedagang pun tersenyum melihat kejadian itu. Drama “ndhodhok ndeprok” selama beberapa menit ini berakhir dengan negosiasi dari sang ayah yang mengatakan bahwa kalau kamu beli barang itu maka kita pulang akan jalan kaki tidak naik becak. Entah apa yang ada di benak Fira, dia menimbang-nimbang antara enaknya naik becak, atau enaknya dibelikan barang itu tapi pulang dengan jalan kaki. Fira pun memutuskan tidak membeli barang itu.


Itulah kenangan tentang ayah. Bagi anda yang sudah ditinggalkan sang ayah, ada baiknya terus mendoakan beliau agar semua amal ibadahnya diterima oleh Tuhan. Bagi yang beragama Islam, alangkah baiknya selalu gunakan momen sholat wajib 5 waktu untuk mendoakan ayah anda.


Semoga ayah-ayah kita yang telah mendahului kita, diterima amal ibadahnya, diluaskan makamnya, dijauhkan dari siksa kubur dan dihindarkan dari jilatan api neraka jahanam. Aamiin.



Jakarta, 26 hari dari tanggal 8 Juni 2016

Fadjar Setyanto