Thursday, June 30, 2016

Wong Uripki Sawang Sinawang

"Wong urip ki sawang sinawang." Begitu pepatah jawa yang saya sering dengar. Kalau diterjemahkan secara bebas kira-kira begini :
Orang hidup itu saling melihat orang lain lebih enak hidupnya dibandingkan diri sendiri.
Seorang tetangga melihat kehidupan tetangganya lebih enak, punya mobil 2 buah, rumah tingkat, anak-anaknya cerdas dan selalu rangking di kelasnya. Tetapi, pada saat yang sama mungkin orang ini juga lupa bahwa tetangganya ini harus pusing tiap bulannya untuk tagihan air yang tinggi, listrik yang tinggi, bbm yang tinggi, gaji pembantu, jajan anak, dan lain-lain sehingga meskipun gajinya besar tapi tidak bisa menabung, malah kadang defisit.
Orang yang ekonominya bagus ini ternyata juga melihat tetangganya yang lebih sederhana hidupnya terasa enak. Punya waktu kumpul keluarga, bisa ikut aktif di lingkungan, pagi hari masih bisa  ngopi di beranda rumah sambil membaca koran, masih bisa main musik bersama anggota keluarganya dan sebagainya yang dia tidak bisa dia dapatkan.
Penulis juga bercanda dengan teman-teman yang akan cuti pulang kampung, "Waduh enaknya yang punya cuti". Eh ternyata dikomentari oleh sang teman,"Waduh enaknya yang usaha sendiri, bisa cuti kapan aja". Saya tertawa ngakak.
Inilah bukti bahwa orang hidup itu "sawang sinawang".
Yang terbaik tentu saja syukuri apa yang ada.
Jakarta, 21  hari lepas tanggal 8 Juni 2016.
Fadjar Setyanto