Friday, June 24, 2016

Hindari Ini, Bila Ingin Sukses Karir

Beberapa hari yang lalu saya mengulas tentang sikap kerja SPG Gramedia. SPG tersebut mengantarkan dan menunjukkan lokasi persis dimana barang yang saya butuhkan sehingga saya tidak membuang-buang waktu untu mendapatkannya.


Itu salah satu contoh dari sikap kerja yang kalau saya sang manajer, akan saya kasih nilai A. Namun di toko yang sama, saya juga menemukan seorang SPG memberikan sesuatu benda kepada pelanggan dengan menggunakan tangan kiri. Tangan kiri atau tangan kanan sebenarnya bukan masalah, tetapi di Indonesia masih berlaku aturan sebaiknya memberikan sesuatu kepada orang lain ialah dengan tangan kanan.


Dalam bahasa Inggris juga terdapat makna yang cukup untuk mendukung bahwa memberikan makna sesuatu dengan tangan kanan lebih baik dari pada tangan kiri. Kanan = right = benar, sementara Kiri = left = tertinggal (pendidikannya/budayanya/nalarnya dsn sebagainya). Konotasi tersebut tetap mencerminkan bahwa penggunaan tangan kanan adalah lebih baik dari pada tangan kiri (dalam hubungan dengan sesama manusia).


Kembali ke kedua type SPG yang tidak layak dapat nilai A atau C dalam sikap kerja (bila saya sang manajer) 

A. Memberikan dengan tangan kiri.
Saya saat itu sudah selesai melakukan pembayaran dan akan mengambil barang yang telah saya bayar. Di konter pengambilan barang tersebut, tidak nampak seorang SPG pun. Saya hanya melihat seorang SPG sedang menawar-nawarkan produk yang serupa saya beli ke pelanggan. Saya berikan bon pembayaran saya padanya. Saya tahu dia sedang membawa barang di tangan kanannya meskipun tidak dalam jumlah banyak. SPG tersebut mengambil barang di laci tempat barang yang dibeli. Tanpa meletakkan dulu atau memindah barang yang sedang dibawanya ke tangan kiri, SPG tersebut langsung mengambil barang yang saya beli dengan tangan kirinya dan menyerahkannya pada saya.


B. Kasus kedua ialah hanya menunjukkan tempatnya tanpa mengarahkan pelanggan.

Kejadian ini saya temukan di sebuah toko buku yang cukup besar di salah satu pasar. Saat saya tanya dimana barang yang saya cari berada, tanpa melihat pada pelanggan dan meninggalkan sebentar saja pekerjaan yang sedang dia lakukan (berdiri di depan barang) dia cuma mengatakan ,"di belakang".


Dua hal di atas adalah hal yang kecil. Namun bila menjadi kebiasaan, hal sekecil apapun akan menjadi besar. Bila sudah menjadi besar, maka akan sulit dibuang. Hal kecil ini kelak bisa menghambat karir seseorang, karena tidak peduli.


"Kebiasaan adalah pelayan yang baik, atau juga bisa menjadi tuan yang jelek. (Emmons)".




Jakarta, 26 hari lepas 8 Juni 2016.
Fadjar Setyanto