Wednesday, June 22, 2016

Ari : Buah Dari Kengototan Berburu Beasiswa




Ari sebut saja demikian ialah seorang perempuan berusia 42 tahun yang berprofesi sebagai guru SMA. Ari adalah tipikal guru yang menyukai tantangan. Eksperimen-eksperimen dalam dunia belajar-mengajar dia terapkan sehingga para  muridnya selalu mendapat tantangan baru. Apalagi semenjak dia lulus dari pendidikanS2 dan S3-nya. Semenjak dia lulus dari S2, dia aktif mengikuti berbagai macam konferensi dan seminar tentang kependidikan baik di  dalam maupun di luar negeri. Kebiasaan itu terus berlanjut pada saat dia telah lulus program doktornya.


Kengototan Ari terhadap ilmu sekarang memang bukan dari hasil seminggu dua minggu atau sebulan dua bulan. Kengototannya dalam belajar sudah dimulai sejak dia masuk pendidikan Guru di S1. Pada saat  itu studi Ari sempat tertinggal satu tahun karena gagal dalam test masuk PTN. Sejak kegagalannya dia belajar terus sambil mempersiapkan diri untuk menghadapi test tahun berikutnya.


Di tes masuk PTN yang kedua, dia bisa tembus masuk ke PTN yang diidamkannya.  Dikarenakan dia sudah tertinggal 1 tahun dari rekan-rekan seangkatannya, dia bertekad menyelesaikan kuliah S1nya dalam tempo 7 semester, tidak lebih. Dia ngotot belajar. Hasil dari kengototannya yang pertama ialah, dia bisa mendapatkan beasiswa di semester ke-3. Sejak saat itu hingga lulus dia tidak perlu membayar kuliah lagi, karena mendapatkan beasiswa. Persis di semester ke 7 dia sudah diwisuda untuk Sarjana S1.


Kengototan Ari terhadap ilmu berlanjut saat dia bekerja sebagai guru di sebuah sekolah swasta ternama di Jakarta. Suatu hari dia mendengar bahwa ada peluang beasiswa bagi guru di sekolah itu yang dibiayai oleh pihak Universitas. Tanpa berfikir lama, Ari pun menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan. Beberapa saat setelah dokumen miliknya siap, ternyata ada perubahan kebijakan dari pihak kampus pemberi beasiswa. Jadwal penyerahan berkas menjadi tidak pasti.


Menghadapi hal demikian, Ari tidak tinggal diam. Dia pun menemui kenalannya yang memegang posisi penting di kampus itu. Dia bertanya tentang perubahan-perubahan yang terjadi. Beruntungnya, karena hubungan Ari dengan kenalannya itu bagus, maka ia bersedia menanyakan langsung kepada pimpinan kampus. Ternyata perubahan itu hanya sementara dan bukan perubahan prinsip. Ari pun tidak tidak tinggal diam dia tetap menyiapkan berkas yang diperlukan. Begitu ada pemberitahuan penerimaan dokumen, maka dia segera memasukan dokumen lamarannya pada hari pertama pembukaan penerimaan. 


Berdasarkan seleksi berkas dan test, Ari bisa diterima di kampus tersebut. 


Dalam proses belajar di S2, untuk masalah buku text dan referensi, Ari tidak ragu-ragu membeli satu buah buku referensi meskipun harganya relatif mahal. Dia tidak mengcopy buku atau hanya mengambil pada bab-bab tertentu saja sesuai saran dosennya.  tapi satu buku penuh dia usahakan untuk dimiliki.. Sehingga apa yang didapat menjadi lengkap.


Ari bisa menyelesaikan kuliah S2nya tepat waktu. Dengan demikian dia tidak perlu mengeluarkan uang ekstra untuk membayar semester yang di luar tanggungan bea siswa.


Setelah lulus S2, kembali Ari mendengar bahwa ada lowongan beasiswa untuk studi S3. Tanpa lama kembali Ari menyiapkan dokumen. Dia benar-benar tidak mau ketinggalan kesempatan ini sedikitpun.


Pada saat dia meminta ijin pada atasannya, terjadi masalah. Sang atasan tidak mau memberi ijin untuk guru yang baru lulus S2. Ari tidak tinggal diam, tetap dia melengkapi persyaratannya.


Suasana bagus kembali berpihak pada Ari. Tidak lama setelah penolakan dari pimpinannya, ternyata masa jabatan pimpinannya itu juga akan habis sebulan kemudian. Pada saat pimpinan baru mulai bertugas, kembali Ari mengajukan permohonan ijin untuk melanjutkan ke pendidikan S3. Pimpinan barunya ternyata orang yang terbuka dan memiliki wawasan luas sehingga dengan tanpa persyaratan ini dan itu mengijinkan Ari untuk melanjutkan pendidikan S3nya.


Pada saat di pendidikan  S3 Ari berusaha memacu prestasinya agar bisa selesai tepat waktu. Hasilnya dari kerja kerasnya ialah dia bisa menyelesaikan pendidikannya tepat waktu. Dia ridak perlu mengeluarkan uang yang tidak sedikit jumlahnya.


“Peluang dan lowongan beasiswa sebenarnya  selalu ada dari berbagai lembaga, yang jadi kendala ialah ketidatahuan atas keberadaan beasiswa tersebut".


"Bagusnya para mahasiswa menjadi proaktif dan agresif dalam berburu beasiswa, jangan pasif menunggu pengumuman saja", demikian cerita Ari saat menutup sessi percakapannya.


Jakarta, 14 hari lepas dari 8 Juni 2016
Fadjar Setyanto