Friday, June 17, 2016

Anak Harusnya Tahu Masalah Ini

Sering saya tanya pada para siswa-siswi saya ,"What do you want to be?". atau,"Kalian ingin menjadi apa?".


Beberapa dari mereka akan menjawab ,"I want to be a teacher," atau ,"I want to be a doctor". Serta berbagai macam jawaban lagi. 


Diantara yang menjawab secara spesifik ingin menjadi apa, ternyata ada juga beberapa siswa/siswi yang tidak tahu akan menjadi apa.


Saya memotivasi agar mereka agar bisa menyatakan ingin menjadi apa di masa yang akan datang.


"Kalian tidak perlu bayar hanya untuk mengatakan saya ingin menjadi guru atau dokter atau polisi atau penyanyi".


"Tidak akan ada yang memarahi kamu saat kalian sampaikan cita-cita itu".


"Tidak ada yang salah untuk memberitahu cita-cita kalian, semuanya benar, ayo jangan takut dan malu".


Akhirnya memang ada yang menyampai cita-citanya namun ada juga yang belum bisa mengatakan ingin menjadi apa.


==


Bagaimana seorang anak mempunyai cita-cita tergantung dari cerita atau contoh atau gambaran orang dewasa di sekitar anak itu. Ada seorang anak yang rajin sekali diajak ke luar kota dengan menggunakan kereta, maka jawaban anak itu ialah ingin menjadi masinis. Dia memiliki berbagai pernik tentang kereta. Gantungan kunci, replika kereta, bahkan majalah kereta pun dia punya. Dia hafal semua nama kereta.


Ada juga seorang anak yang suka sekali majalah barbie. Diapun bercita-cita ingin menjadi designer, karena bisa membuat berbagai macam baju.


Namun sayang sekali untuk anak yang kurang sekali diajak ke toko buku, buku-buku bacaan selain bacaan sekolah tidak punya, orang tuanya jarang memberi gambaran atau jarang cerita, maka sang anak tidak bisa mengungkapkan dia ingin menjadi apa. Bukan karena tidak tahu nama profesi tapi lebih karena malu. Malu bila dianggap berhayal terlalu tinggi.


Alangkah baiknya memang orangtua memperhatikan hal yang mungkin dianggap kecil ini. Memang ternyata ada saja orang tua yang beranggapan masalah si anak mau jadi apa tergantung dia aja nanti sama nasibnya.


Biasanya pembicaraan tentang ingin menjadi apa kelak di masa yang akan di datang saya tutup dengan cerita berikut :


Setiap orang yang naik taksi pasti akan ditanya oleh sopirnya ,"Mau kemana?".


Kalau jawaban orang itu terserah kamu aja, kamu kan sopirnya. Kira-kira marah apa tidak sopirnya?. Para siswa biasanya serempak akan berkata,"Maraaaaaah."


Atau kalau tidak marah maka si sopir akan bertanya jumlah uang yang dimiliki si penumpang. Si sopir tetap akan membawa penumpang tersebut sampai uangnya habis, nanti si sopir akan menyuruh penumpang tersebut keluar dari taksinya. "Kira-kira penumpang seperti ini akan sampai ke tujuannya atau tidak?", tanya saya pada para murid.


Para murid akan menjawab,"Tidaaaaaak".


Nah kalau si penumpang menjawab,"Saya akan ke Monas." Maka perjalanan dari Cempaka Mas ke Monas cepat atau tidak?? Mereka menjawab ,"Cepaaaaaaat". Itulah, karena si sopir sudah tahu tujuannya.


Nah itulah pentingnya kamu memiliki cita-cita. 





Jakarta, 9 hari selepas 8 Juni 2016
Fajar