Tuesday, July 21, 2015

MOS Di Sekolah Penjajah VS Sekolah Cerdas



"Ah gila deh, gue harus cari jus merk Bunga Matahari dan Kentang berdaun Sledri", keluh seorang teman yang baru saja memasukan anaknya di SMP.

"MOS kok kayak gini amat sih?", dia menambahkan,"Yang repot kan orang tua juga, si anak sih nyantai di rumah".

Saya yang mendengar keluhannya hanya geleng-geleng kepala. Menurut saya apa pun tujuannya kegiatan MOS seperti ini bukan membuat murid menjadi pandai tapi ini adalah pembodohan.

Sesuai namanya Masa Orientasi Sekolah atau MOS semestinya diarahkan ke bagaimana para murid bisa mendapat prestasi maksimal di sekolah, bagaimana cara belajar efektif, bagaimana membaca cepat, bagaimana perilaku di perpustakaan, pentingnya membaca, penggunaan lab bahasa, penggunaan lab komputer, dan banyak lagi. Dengan demikian saat mereka lulus, mereka mendapatkan hasil yang terbaik sehingga bisa dengan mudah melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Semestinya aktifitas seperti dikuncir pita berdiri, memakai kaos kaki beda warna, membawa balon, serta membawa benda-benda bodoh lainnya, sudah ditiadakan. Kegiatan seperti lebih dekat ke arah pembodohan daripada pengembangan akademis. 

Sekarang kembali ke sekolah itu sendiri, bagaimana mereka mengerti maksud dari Masa Orientasi Sekolah itu sendiri. Kalau sekolah "cerdas" mestinya sudah mengubah pola MOS jadul ala penjajah ke MOS yang mengembangkan akademis para muridnya.

Sunday, July 19, 2015

Ingat-ingat, karakter juga salah satu kunci sukses




Hanya karena masalah Bo Calahan pembohong, maka cukup bagi Sony manager suatu group football di Amerika untuk tidak memasangnya dalam timnya. Padahal Calahan adalan pemain peringkat atas Super Ball pada saat itu. Itulah sedikit pelajaran dari film Draft Day yang dibintangi Kevin Costner. Banyak orang termasuk pemilik tim menghendaki Calahan masuk tim tersebut tapi Sony tetap pada pendiriannya :"Tidak memilih Calahan".

Sikap atau karakter ternyata adalah salah satu penentu dari karir seseorang. Seberapapun hebatnya keahlian seseorang dalam bidangnya tapi bila sikapnya tidak bagus maka akan membuat orang tidak mau berbisnis dengannya. Andaipun ada yang mau berbisnis tapi selalu disertai kecurigaan-kecurigaan.

Ada satu kondisi yang banyak dibenarkan oleh para pakar motivasi. Hal-hal kecil yang sering dilakukan maka akan menjadi kebiasaan. Suatu kebiasaan maka akan menjadi karakter.

Kebiasaan baik yang dilakukan terus menerus seperti menulis maka besar kemungkinan akan menjadikan orang tersebut mahir menulis. Para top performer seperti penyanyi tenar The Beatles, Agnes Monica, Koes Plus dan lainnya, bisa dipastikan telah memiliki kebiasaan menyanyi, bermusik, atau menulis lagu setiap hari tanpa kenal lelah.

Sebaliknya kebiasaan buruk seperti kebiasaan para pelaku curanmor. Mereka pun berlatih dengan tekun mengasah ketrampilannya agar bisa secepat-cepatnya mengeksekusi targetnya.

Bagaimana dengan sikap pengeluhan dan optimistis? Setali tiga uang dengan mengasah ketrampilan, para pelaku pengeluhan juga telah membiasakan dirinya mengeluh atas segala hal. Demikian juga si optimis yang sering membiasakan dirinya melihat dari sisi positif atas hal-hal yang terjadi sehari-hari.

Sekarang dikarenakan suatu karakter tidak bisa diciptakan begitu saja dalam ukuran menit, maka pilihan ada pada kita. Mau karakter seperti apa yang akan kita bangun untuk diri kita sendiri?

Semua pilihan ada konsekuensinya. Silakan memilih.

Saturday, July 18, 2015

Inilah kata-kata sakti dan prilaku yang bisa membuat prestasi kerjameningkat :kasus kasir mini market.



"Judes amat mbak," Fulan mengomentari perilaku kasir sebuah mini market.

Entah kasir itu sadar atau tidak akan perbuatannya, nampak jelas Fulan tidak suka dengan apa yang dilakukan sang kasir.

Ucapan Fulan memang bukan tanpa alasan. Pertama, saat dia mendengar suara sang kasir saat dia berteriak dari jarak yang cukup jauh ke arah petugas konter buah. Dia bertanya tentang siapa pemesan buah yang ada di hadapannya pada petugas tersebut. Padahal saat itu di hadapannya ada seorang pelanggan lain. Posisi Fulan berada di belakang pelanggan tersebut. Fulan pun menyahuti ucapan sang kasir bahwa dialah pemesan buah tersebut.

Fulan sangat tidak menyukai teriakan sang kasir dari jarak jauh dengan suara keras, disinilah nampak bahwa dia tidak menghargai pelanggan yang ada di hadapannya. Padahal kasir tersebut bisa saja bertanya pada pelanggan yang ada di hadapannya apakah membeli buah tersebut atau tidak dengan suara pelan. Dia tidak perlu takut bahwa pembeli akan "kabur" karena tanggung jawab atas buah tersebut tetap ada di petugas konter buah bukan pada kasir.

Kedua, penilaian lain Fulan bahwa kasir ini tidak menghargai orang lain ialah saat dia meminta pembeli di depan Fulan untuk memencet nomor PIN kartu ATMnya. Dia berkata pada pada pelanggan tersebut tanpa senyum, tanpa kata-kata "tolong", "silakan", tapi menggunakan kalimat perintah :"PIN nya bu!", dengan nada agak tinggi tanpa disertai senyum bahkan cenderung kasar.

Ketiga, hingga giliran Fulan berada di depan kasir itu, tidak pula nampak ada keceriaan bekerja di wajah kasir tersebut, hingga akhirnya Fulan tidak bisa berdiam diri lagi. 

Ditanyalah kasir itu, " Sudah lama kerja mbak?"

"Baru," jawabnya.

"Kok judes amat sih?", sahut Fulan.

"Muka saya ya?"

Fulan diam tidak menanggapi pernyataan sang kasir. Ujung-ujungnya ialah Fulan komplain atas kelakuan sang kasir kepada manajemen karena tidak mendidik karyawannya dengan baik.

-------

Bahasa tubuh, adalah sesuatu yang tidak bisa dibohongi tentang karakter atau kondisi seseorang. Kalau bahasa tubuh tidak dikelola dengan baik, maka secara tidak disadari akan sering keluar hal-hal negatif. 

Bahasa tubuh erat berkaitan dengan sugesti apa yang dimasukan ke dalam otak sehingga diserap oleh alam bawah sadar.

Terbiasa berdoa sebelum bekerja, terbiasa senyum, terbiasa menghargai orang lain adalah cara melatih bahasa tubuh agar mengeluarkan hal-hal baik.

"Tolong", "silakan", "mohon", serta " terima kasih" adalah kata-kata sakti yang bisa memberikan keberuntungan bagi yang terbiasa mengucapkannya.

Lihatlah kembali gambar di atas. Karena "senyumnya" maka ia nampak menyenangkan, bukan.?