Friday, August 16, 2013

Losarang-"Mobil Pak Harto"

BUKU FAJAR - Perjalanan kembali ke Jakarta dari Solo tanggal 14 Agustus 2013 kemarin, sebanyak 7 kali saya melihat mobil berstiker seperti di atas. Gambar Pak Harto, dengan ditambahkan tulisan "Piye kabare? Masih Enak Zaman Ku Tho?"

Membaca tulisan tersebut, saya tersenyum kecut. Kalimat itu bisa benar , bisa juga tidak. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya.

Dulu pada zaman Pak Harto, pemasangan bendera merah putih pada saat perayaan HUT RI wajib dilakukan. Saat ini, bila kita ke kampung-kampung, maka akan ada yang pasang dan ada yang tidak.

Dulu murid-murid wajib upacara bendera setiap senin pagi dan sabtu sore. Pada saat upacara tersebut, maka para murid mau tidak mau akan menghafalkan lagu-lagu kebangsaan. Sementara saat ini upacara tidak menjadi wajib, sehingga para murid banyak yang lupa akan lagu-lagu kebangsaan.

Dulu, pada saat Pemilihan Umum baik itu lembaga legislatif ataupun lembaga yudikatif, tidak banyak kas negara keluar untuk membiayai Pemilihan tersebut. Sekarang?Kas negara pasti keluar, sementara siapa yang berbiaya besar, biasanya akan menang. Untuk kasus terakhir ini, Pemilukada DKI 2012 mungkin suatu pengecualian.

Dulu, aliran-aliran sesat yang ada, bila tegas dilarang maka akan dilarang. Saat ini? Serba tidak tegas, oleh sebab itu jangan heran bila ada kekerasan ormas atau masyarakat terhadap aliran sesat. (Memang istilah "sesat" itu sendiri memang tergantung siapa yang memvonis), namun setidaknya ada parameter. Singkat kata, jangan sampai suatu aliran minoritas membuat resah mayoritas.

Saat ini hampir tiap hari kasus korupsi menghiasi surat kabar.

Mungkin puncak dari kemuakan masyarakat atas kondisi yang ada inilah yang membuat banyaknya stiker tersebut beredar. Dari sudut pandang saya, orang-orang yang menempeli kendaraannya dengan stiker tersebut, nampaknya bangga bisa menempeli kendaraannya dengan stiker tersebut.

@fajarsetyanto
Sent from my BlackBerry.