Monday, July 1, 2013

Falsafah Sederhana Tapi "Maknyuus"

"Penuhi bak air atau ember di kamar mandi, itu kan lambang kemakmuran."

Seorang teman meyakini kata-kata tersebut. Dengan sederhana dia menjelaskan mengapa dia membenarkan kata-kata tersebut di atas.

"Kata-kata sederhana tersebut memiliki filsafat yang bagus," katanya.

"Bukan berarti gara-gara tempat air atau ember penuh hidup jadi makmur atau sebaliknya bila kosong maka hidupnya tidak menjadi makmur."

Lalu dia menjelaskan lagi dengan panjang lebar.

Filsafat itu bisa diartikan sebagai mudahnya terpenuhi kebutuhan akan air di saat yang diperlukan. Dengan air yang selalu ada, maka perasaan nyaman akan timbul. Sebaliknya bila air tidak ada, maka akan timbul perasaan sangat tidak nyaman.

Sebagai contoh ialah kalau air di bak mandi atau ember di kamar mandi penuh dan tidak kosong, bila ada keperluan misalnya buang air atau sekedar cuci tangan cuci kaki di kamar mandi menjadi mudah. Kondisi mudah memenuhi suatu kebutuhan itulah yang dipersepsikan sebagai makmur.

Mungkin ada yang berkata :"Kamar mandi sekarang kan pakai shower, jadi tidak perlu bak mandi atau ember."

Pernyataan di atas benar, namun biasanya model kamar mandi demikian, tanki airnya disimpan di tempat tersembunyi. Bisa jadi itu memang tidak berbentuk bak mandi tapi tanki penampung air. Tanki penampung itu diletakkan di atas rumah atau tower tersendiri. Pernah terbayang bila tanki penampung itu kosong? Kalau itu sampai terjadi, pasti sangat tidak nyaman.

Ternyata, memang tempat air yang penuh membuat nyaman situasi.

Pada saat seseorang sedang mengisi bak mandi atau tanki penampung bila dia membenarkan hal itu, maka di saat yang sama alam bawah sadarnya selalu ingat "petatah petitih" tersebut di atas. Alam bawah sadarnya secara tidak langsung sedang berharap mendapatkan kemakmuran hidup Harapan yang terbaik tentu saja berwujud doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, bukan kepada airnya.....



@fajarsetyanto

Sent from my BlackBerry.