Wednesday, June 26, 2013

Service Centre Bagusnya Sepi Atau Ramai, Ya?

Hari ini saya mendapati pc tablet saya bermasalah. Ada garis-garis di layar.

Merasa baru dua bulan memakai dan pemakaian saya benar, saya bawa ke service centre produk itu.

Pengalaman tidak enak pertama ialah saat saya mendapati bahwa alamat service resminya yang ada di mangga dua mal tidak benar. Alamat toko yang disebut di alamat itu mengatakan :"Tuh alamat di kartu bohong semua, mas."

Pengalaman kedua. Setelah saya tiba di alamat service yang sebenarnya, nampak kerumunan orang yang service banyak sekali. Ada sekitar 30an orang.

Ada pengamatan lucu. Bila seseorang selesai berhadapan dengan petugas dan meninggalkan lokasi, tiba-tiba ada saja yang datang kembali. Dengan demikian bangku yang tersedia yang diharapkan kosong, ternyata terisi kembali. Demikian seterusnya. Jadi angka 30 orang ada di dalam ruangan tidak berkurang sama sekali meski banyak yang sudah meninggalkan lokasi.

Beberapa orang yang saya ajak berbicara, banyak yang menggerutu.
"Baru sepuluh hari beli, rusak."
"Janjinya 3 minggu, ini udah sebulan belum ada berita."
"Harga kacanya 700ribu, padahal harga barangnya 2 juta. Ini jebakan."
"Goob bye aja dah ama ini produk."

"Waduh gawat ini", pikir saya.

Akhirnya nama saya dipanggil. Tablet PC saya bisa diperbaiki bila mengganti lcd yang pecah. Biaya yang diperlukan 900ribu. Waktu yang diperlukan 3 minggu.

Akhirnya saya permisi tanpa jadi menservice.

Standar service 3 minggu adalah perbuatan yang membodohi pelanggan. Kalau barang ada, maka service paling tidak 2 - 3 hari. Tapi ini 3 minggu.

Saya benar-benar merasa tepat untuk mengucapkan selamat tinggal untuk produk ini. Barang jelek dijual. Hanya menang iklannya saja yang gemerlap dan agresif. Lain kali kalau membeli tablet pc lebih baik beli yang sudah punya merk saja.

Pengunjung service centre ramai menunjukkan kualitas barangnya jelek.

-------

"Memang tadi pergi kemana Pak Penulis?"

"Saya pergi ke ADVAN service centre."
Sent from my BlackBerry.