Sunday, June 23, 2013

Raih Prestasi? Ubah Cara Belajar

Seorang ibu bercerita tentang anaknya sebut saja Fulan yang nilai bahasa Inggrisnya dan matematikanya jatuh di sekolah.

“Anak kita bisa ngikutin pelajaran di sekolah nggak sih, Ma?”, Tanya seorang suami kepada istrinya perihal anaknya.

“Nggak tahu Pa”, jawab istrinya ,”Kalau diajarin di rumah bisa, tapi di sekolah kok lupa lagi ya”.
“Coba besok mama ketemu gurunya”, lanjutnya.

--0—

“Ibu……….., Fulan itu memang bisa menerima pelajaran harian meskipun tidak cepat, tapi dia bisa mengikuti.”

“Besar kemungkinan dia tertekan saat menghadapi test.”

“Dalam mengajari anak belajar usahakan orang tua jangan mendoktrin anak bahwa dia belajar agar nilainya bagus  tapi ada yang lebih baik dikatakan yaitu belajar agar bisa sehingga dia bisa punya kehidupan yang baik di masa dia dewasa kelak”, demikian lanjut sang guru.

Akhirnya guru tersebut meminta sang orang tua untuk mengamati pola belajar anaknya di rumah. Hal pertama yang diminta diamati ialah apakah dia belajar bila hanya ada PR atau tidak. Dalam mengerjakan PR pun apakah dia mengerjakan sendiri atau ada intervensi orang tua. Kalau ada intervensi orang tua, maka seberapa banyak intervensi tersebut?

Orang tua Fulan pun memeriksa apa-apa yang mereka lakukan di rumah. Mereka mendapati bahwa untuk pelajaran selain matematika dan bahasa Inggris mengapa Fulan bisa mendapatkan nilai bagus karena ternyata mereka sering mengajak Fulan berlibur, sehingga imajinasinya berkembang sehingga untuk  pelajaran mengarang dalam bahasa Indonesia maka dia dapat dengan mudah menceritakan ulang apa-apa yang dialaminya. Fulan juga sering diajak ke museum untuk belajar sejarah dan pengetahuan umum lainnya termasuk diajak menonton pertandingan sepakbola, bulu tangkis, dan bola basket.
Untuk matematika dan bahasa Inggris? Mereka menyadari bahwa mereka terlalu banyak intervensi terhadap PR sang anak. Mereka juga menemukan bahwa anaknya tidak belajar kedua pelajaran tersebut bila tidak ada PR.

Mereka pun mulai menjalankan saran sang guru yaitu agar membuat Fulan berada di atmosfir belajar yang menyenangkan. Untuk matematika mereka membuat kartu-kartu kecil yang bisa digunakan sang anak belajar sambil bermain.

Mereka pun sekarang rajin membawa kartu-kartu kecil untuk belajar Fulan dimana  saja dan menciptakan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang tetap mengarah ke pembelajarannya.
Sementara itu untuk mendukung pelajaran bahasa Inggrisnya, orang tua Fulan memasukkan Fulan ke kursus Bahasa Inggris yang  menerapkan pola belajar sambil bermain sehingga dia tetap bisa menikmati proses bermainnya. Mereka memasukan Fulan ke kursus bahasa Inggris untuk mendapatkan atmosfir belajar berbahasa Inggris bagi Fulan. Mereka menyadari, mungkin mereka sebagai orang tua bisa berbahasa Inggris, tapi karena kesibukan maka sulit menciptakan atmosfir belajar bahasa Inggris di rumah.

Beberapa bulan setelah dilaksanakan perubahan tersebut, prestasi Fulan mulai meningkat. Orang tua Fulan senang bahwa perubahan penanganan terhadap pola belajar putra mereka memberikan hasil dengan baik. Hasil yang dicapai Fulan pun lebih baik dari pada sebelum penanganan.

@fajarsetyanto

www.latihan-english.com