Thursday, June 27, 2013

Kasihan Sekali Negara Ini, Kurang Dipercaya

Bebas visa Jepang untuk Thailand dan Malaysia. Itulah berita di Kompasdotcom hari ini. Wajar Indonesia tidak diberi. Wong cuma mengurus surat-surat kerja di Arab Saudi dan di Malaysia aja banyak orang Indonesia yang ngemplang. Apalagi kalau Jepang membebaskan visa untuk Indonesia ke Jepang. Bisa-bisa Jepang diserbu tenaga kerja gelap.

Untuk masuk ke UK, seorang warga negara Indonesia harus pula melampirkan rekening bank tiga bulan terakhir, itu salah satu syarat untuk bisa mendapatkan visa. Bahkan untuk ke Prancis juga sama, tetapi lebih ketat lagi yaitu harus diprint sebulan sebelum mengurus visa.

Itulah perlakuan beberapa negara untuk membatasi masuknya orang Indonesia ke negaranya.

Sementara dari sisi pemasaran, untuk peluncuran produk seperti Nokia E-90, beberapa tahun yang lalu, Indonesia menjadi negara pertama tempat peluncuran produk tersebut. Pembeli pertama produk itu seorang pengusaha dengan harga USD 5.000 atau sekitar 50 Juta rupiah dengan nilai sekarang.

Dua fenomena di atas, visa dan peluncuran produk, sangat menarik. Indonesia dicinta, karena jumlah penduduknya besar dan "konsumtif". Sementara dari sisi peraturan masuk negara terhadap orang Indonesia "diawasi" dengan ketat. Indonesia termasuk negara yang kurang bisa dipercaya di hadapan mereka dalam hal mengatur penduduknya.

Jangankan negara-negara maju seperti Jepang, UK, dan Prancis. Negara seperti Malaysia saja menganggap banyak orang Indonesia ialah "perusuh". Oleh sebab itu ada kata "Indon", sebuah sebutan untuk orang Indonesia karena terkenal sering buat masalah. Bahkan kampung kumuh di Malaysia banyak didiami orang Indonesia.

Seorang teman menjadi sangat jengkel terhadap Malaysia. Penyebabnya adalah sewaktu dia berada di bea cukai Malaysia, dia pernah ditanya berapa uang yang dia bawa. Petugas level rendah Malaysia ternyata berani bertanya demikian terhadap warga negara Indonesia tanpa melihat siapa yang dihadapi. Teman tersebut, yang merupakan petinggi di sebuah perusahaan gas dunia, sampai saat ini tidak mau berlibur ke Malaysia lagi.

Mungkin ini adalah dampak opini bahwa orang Indonesia senang "menabrak" dan "melawan" peraturan. Orang Indonesia terkenal tidak disiplin dan semaunya sendiri.

Namun apa mau dikata, opini tersebut kalau dibandingkan dengan kehidupan sehari-hari di Jakarta, misalnya, banyak benarnya.

Kasus korupsi yang tidak pernah berkurang. Makin banyak "orang besar" masuk penjara. Ada juga informasi, "orang besar" bisa memilih selnya bahkan hidup mewah di tahanan.

Kalau "orang kecil" Indonesia, lihat saja perilaku mereka di jalan. Melawan arah, masuk jalur yang tidak semestinya bagi pengendara motor, memakai trotoar untuk jualan, memakai hak-hak publik dan banyak lagi.

"Orang besar" dan "orang kecil" sama-sama punya andil membuat negara Indonesia menjadi kurang dipercaya. Komplit sudah.

Kasihan sekali negara ini. Memang semua ini tentu saja kembali kepada bangsa Indonesia sendiri :"Mau seperti apa kita dianggap oleh negara lain ?"

Semua jawaban ada di diri masing-masing anak bangsa negara ini. Monggo.



Sent from my BlackBerry.