Tuesday, June 25, 2013

Partai Cerdas VS Partai Gaya Lama



Beberapa bulan ke depan Jakarta akan "ditumbuhi" tanaman yang cepat sekali tumbuh, yaitu bendera dan simbol-simbol partai. Maaf, meskipun juga terjadi di beberapa kota di Indonesia, saya cuma nyebut Jakarta, karena Jakarta adalah kota dimana saya tinggal.
Para partai akan membabi buta memasang berbagai bendera dan atribut-atribut partainya. Jakarta akan memiliki ribuan atribut partai.
Saya cuma berfikir kenapa partai menunjukkan daerah "kekuasaannya" sama seperti kucing? Kalau kucing menunjukkan wilayah kekuasaannya dengan air seninya, kalau partai dengan menggunakan bendera-bendera atau atribut-atribut lainnya. Apa yang dilakukan kucing atau pemakaian bendera-bendera itu sudah terjadi sejak zaman dahulu kala. Sejak peradaban muncul. Alias sudah sejak zaman purbakala.
Kalau sebuah partai cerdas, pasti dia akan menggunakan tehnologi atau menjalin komunikasi yang baik dengan simpatisannya melalui tehnologi atau cara-cara yang lebih anggun dan cantik bukan dengan cara "purbakala". Contoh pemasaran modern ialah tehnik yang dihadirkan oleh Jokowi saat beliau kampanye untuk DKI 1. Kala itu Jokowi tidak membabi buta memasang atribut kampanye, tapi masyarakat mengenalnya dari mulut ke mulut, komik, game on line, media massa, bahkan sosial media pun menempatkan Jokowi dalam pembicaraan yang paling banyak dibicarakan. Begitu juga pasangannya, Basuki, yang memiliki lebih dari 5 Blackberry untuk berinteraksi. Hasilnya sekarang memang mereka bekerja untuk masyarakat.
Saya menarik kesimpulan pribadi, mungkin anda punya opini yang berbeda, kalau partai kontestan pemilu itu cerdas dan memang berniat kenal dengan simpatisannya, maka dia akan mengenalkan organisasinya dengan cara yang cerdas. Kalau partai cerdas pasti akan menggunakan tehnik pemasaran yang modern yang memudahkan masyarakat tahu dan berinteraksi dengannya. Mudah-mudahan orang-orang di dalamnya juga cerdas dan memang berniat membantu masyarakat. Tetapi kalau partai kontestan pemilu menggunakan cara-cara tradisional sekali, saya menangkap bahwa orang-orang didalamnya tidak cerdas (bukan tidak pinter). Yang menakutkan ialah orang-orang di dalamnya ialah orang yang cinta status quo alias tidak suka perubahan.

@fajarsetyanto

Sent from my BlackBerry.